STRATEGI PEMASARAN PADA TOKO BUKU BINA ILMU
KEDIRI
Toko
buku memiliki banyak kajian dalam pemasarannya. Kajian tersebut memiliki
perbedaan dalam meningkatkan omset penjualan. Omset penjualan dipengaruhi oleh
strategi yang digunakan dalam toko buku tersebut. Terdapat dua bentuk strategi
pemasaran.
Bentuk pertama adalah strategi pemasaran yang di
teliti menurut Cahyo[1],
Hakim[2],
Hartini[3],
Oktavianto[4],
Meida[5],
Safitri[6],
Pongngalla[7],
Rivai[8],
Handayani[9].
Bentuk kedua penelitian yang dilakukan oleh Fahmi[10],
Jaman[11].
Penelitian ini berfokus pada Strategi pemasaran produk buku pada “Toko Buku
Bina Ilmu Kediri”.
Penelitian
ini dilakukan untuk menggambarkan sistem yang ada di dalam toko buku Bina Ilmu.
Toko buku Bina Ilmu memiliki sistem yang masih sederhana. Hal ini dipengaruhi
sistem operasional yang kurang memadai. Bina ilmu menggunakan sistem manual
dalam pelayanannya. Toko buku memiliki keunikan dalam pemasarannya. Ia
menjadikan sistem WOM (Word Of Mouth)
sebagai alat menjalin pelanggan. Sistem WOM (Word Of Mouth) merupakan
srategi pemasaran yang masih bersifat massif, namun ia memiliki efek yang besar
dalam sebuah usaha.
Penelitian
ini menggunakan penelitian kualitatif. Objek penelitian ini berlokasi di Kediri
perbatasan Blitar. Dengan cara ini, diperlukan informasi yang mendukung
penelitian melalui survei lokasi, wawancara dan rekaman(penulisan).
Penelitian
ini dilakukan di lokasi Toko Buku Bina Ilmu. Ia beralamat di Desa Ringinrejo
RT/RW 02/03, Kecamatan Ringinrejo, Kabupaten Kediri. toko buku Bina Ilmu berada
di lokasi yang sangat strategis. Ia berada di tengah lokasi yang dekat dengan
pasar, pesantren, kantor kecamatan, dan sekolahan.
Toko Buku Bina
Ilmu merupakan toko buku satu-satunya di desa tersebut. Hal ini memiliki peluang
tersendiri dalam menarik pelanggan di dalam masyarakat. Ia bergerak lebih leluasa
tanpa adanya pesaing dalam penjualannya. Ia melakukan promosi yang sederhana
dalam penjualannya. Promosi ini adalah WOM (Word Of Mouth) dan kenalan
semata. Hal ini menjadikan toko buku Bina Ilmu kurang efektif dalam strategi
penjualannya.
Word Of Mouth (WOM) merupakan strategi menunggu bola. Setrategi ini
memiliki sistem yang massif, namun ia memiliki efek besar terhadap suatu usaha[12].
Strategi ini merupakan sistem yang kurang efektif. Ia menggunakan sistem
pemasaran dengan cara menunggu bola. Hal ini memiliki potensi keuntungan yang
besar, jika ia menggunakan sistem menjemput bola dalam pemasarannya.
Toko buku Bina Ilmu membutuhkan terobosan baru untuk
meningkatkan volume penjualan. Ia memerlukan strategi dalam memasarkan bukunya.
Hal ini menjadi suatu alasan tersendiri dalam meneliti usaha tersebut.
Wawancara ini
dilakukan berdasarkan letak geografis dan rancangan konsep yang masih sederahana.
Wawancara dilakukan untuk mengetahui informasi secara rinci dari informan.
Wawancara dalam penelitian ini dilakukan dengan tanya jawab kepada informan.
Informan kunci dalam penelitian ini adalah Hj.
Rukoyyah. Seorang wanita berumur 38 tahun. Penelitian dilakukan dengan survei
lokasi, wawancara dan rekaman (pencatatan).
Hasil Penelitian
A. Strategi Pelayanan Produk
Pedagang menggunakan
strategi Word Of Mouth (WOM) serta relasi perkenalan yang sangat luas.
Pedagang memberi pelayanan seramah mungkin terhadap pembeli. Pedagang
menggunakan kelengkapan koleksi buku dalam pemasarannya. Koleksi buku yang
lengkap memberi penilaian yang penting dalam membangun branding toko
buku.
Usaha buku memiliki tingkat kerumitan dalam
produk. Produk buku mengalami kurikulum terbaru setiap tahunya. Kitab-kitab
mengalami periode terbaru dalam percetakannya. Managemen sistem yang digunakan
masih bersifat manual. Misalnya, kategori buku islam disatukan dengan kategori
buku kesehatan. Kitab-kitab menggunakan berbagai judul pegon dan seni kaligrafi
arab dalam judulnya. Hal ini dibutuhkan ketelitian supaya tidak salah dalam melayani
pelanggan.
Toko buku Bina Ilmu menjadikan
kelengkapan produk dalam menarik pelanggan. Pelanggan memiliki kepercayaan kuat
terhadap toko buku yang selalu ada ketika pelanggan butuh. Bangunan toko
didirikan sebesar apapun, namun koleksi produk tidak lengkap membuat pembeli
kecewa. Pembeli datang ke toko untuk membeli suatu produk, namun ia tidak
menemukan barang yang dibutuhkannya di dalam toko. Hal ini menjadikan pembeli
kecewa dan enggan untuk datang kembali.
Toko buku Bina Ilmu
menjadikan mesin foto copy sebagai media pemasaran. Foto copy merupakan usaha
yang paling laku di bandingkan buku. Hal ini dipengaruhi oleh lokasi yang
strategis yaitu; letak Pasar, Kantor Kecamatan, Sekolahan, dan pesantren.
Para pegawai dan murid membutuhkan jasa foto
copy untuk berbagai macam keperluannya. Hal ini menjadikan pajangan buku,
kitab, peralatan tulis, Al-Qur’an sebagai alat untuk menarik minat dalam
membeli.
Pembeli melihat pajangan yang menghiasi
rak-rak dan eltalase mendorongnya untuk bertanya perihal produk. Ia menanyakan
suatu produk minimal masalah harga. Pembeli datang untuk sebatas foto copy
dalam toko buku, namun ia memiliki kebutuhan, ketika ia melihat produk yang di
pajang, ia merasa sesuai dengan yang di butuhkan, sehingga ia datang ke toko
buku membeli produk dan foto copy.
Toko buku Bina Ilmu
memberi dispensasi dalam penjualan buku. Hal ini dilakukan penjual dan pembeli
melalui perjanjian yang telah disepakati sebelunya. Dispensasi ini berupa
kesalahan dalam produk. Produk ini telah dibeli oleh pelanggan, namun pelanggan
tersebut membuat perjanjian sebelumnya untuk mengembalikan barang tersebut,
jika ia merasa tidak cocok di kemudian hari. Hal ini memiliki jangka waktu yang
pendek minimal dua hari setelah pembelian, maka buku tersebut boleh
dikembalikan lagi dengan berbagai syarat. Pertama, penjual tidak
melayani ketika produk dikembalikan lebih dari 2 hari. Kedua, produk
tidak diterima ketika dalam keadaan cacat atau rusak.
Pembeli memiliki hak
dalam menilai kinerja sistem yang ada di dalam toko buku. Sistem yang memiliki
keunikan tersendiri ketika sedang antrian foto copy. Pembeli diperbolehkan
membaca buku untuk dibaca ketika menunggu antrian fotocopy. Antrian ini membuat
pembeli merasa jenuh ketika menunggu. Hal ini menjadikan toko buku
memberlakukan sistem tersebut.
Pembeli tidak diperbolehkan membawa pulang
buku yang dipinjamnya sebelum sah untuk di beli. Demikian ini menjadi alasan
penting foto copy dalam strategi pemasaran produk.
B. Strategi Harga Produk
Harga merupakan jumlah
yang dibutuhkan untuk memperoleh produk atau pelayanan. sehingga pendapatan di
peroleh melalui penjualan dalam kegiatan usaha[13].
Harga memiliki pengaruh dalam membangun branding yang positif. Harga
berpengaruh terhadap kualitas produk.
Toko buku Bina Ilmu
menjadikan harga sebagai alat untuk strategi pemasaran. Ia memberi harga pada
produknya dengan harga standar tinggi. Standar tinggi yang di maksud dalam toko
buku tersebut. Ia memberi harga tinggi namun masih dalam kewajaran tergantung
produk yang dijualnya. Produk langka memiliki potensi harga yang cukup mahal. Kelangkaan
produk memberikan nilai jual yang sangat mahal.
Toko buku Bina Ilmu
merupakan satu usaha yang tidak ada pesaingnya. Hal ini merupakan peluang besar
dalam usaha tersebut karena belum ada pesaingnya. Ia memberi harga standar
keatas untuk memperoleh keuntungan. Pembeli merasa keberatan dalam sebuah harga
yang ditawarkan. Sehingga, pembeli melakukan sebuah tawar menawar dalam membeli
buku tersebut. Buku yang ditawar tidak akan diterima, ketika pembeli datang membeli buku hanya satu
kali. Penawaran berlaku bagi pelanggan setia toko buku Buku Bina Ilmu.
Pelanggan berperan penting dalam menyebarkan informasi branding toko
buku yang positif. Hal ini menjadikan media dalam promosi. Promosi yang
dilakukan melalui mulut ke mulut, perekomendasian, dan penilaian pelanggan
terhadap toko buku.
Perekomendasian
berdasarkan kesan yang muncul dalam benak pelanggan. Kesan tersebut memiliki
pengaruh terhadap kenyamanan pelanggan. Kenyamanan ini dilakukan oleh penjual
terhadap pembeli yang dilayaninya. Rekomendasi berperan penting terhadap pemasaran
usaha toko buku.
Pelanggan merekomendasi kesan positif terhadap
toko buku. Kesan positif yang dimilinya akan di ceritakan kepada tetangga,
sahabat, saudara dan temannya. Pembeli memperoleh kesan positif melalui
pelayanan, kualitas produk, dan harga produk yang dibelinya. Hal ini menjadikan
pelayanan produk sangat penting dalam bisnis toko buku “Bina Ilmu”.
Pembeli
memiliki penilaian tersendiri terhadap sistem penjualan yang digunakan oleh
toko buku tersebut. Sistem penjulan mempengaruhi strategi pemasaran yang di
lakukan oleh toko buku Bina Ilmu. Hal ini penjualan sangat berperan penting
terhadap pelayanan dan kenyamanan seorang pembeli. Pembeli menjadikan faktor
kenyamanan sebagai tolak ukur untuk datang lagi di kemudian hari. Pembeli awal
memerlukan penyesuaian waktu. Penyesuaian waktu ini menyebabkan pembeli untuk
bisa di akui sebagai pelanggan. Pelanggan ini memiliki keistimewaan tersendiri
ketika membeli di toko buku.
Sistem
penjualan yang dijalankan toko buku tersebut sangat sederhana. Sistem ini
memiliki banyak kekurangan, jika dibandingkan dengan toko buku terbesar dan
ternama di Indonesia. Toko buku ini menjalankan sistem pemasaran yang masih
sederhana. Toko buku menggunakan sistem WOM (Word Of Mouth) dalam
strategi pemasarannya.
Sistem WOM memiliki
strategi komunikasi yang berorientasi kepada konsumen. Komunikasi ini bersifat
personal. Sistem WOM merupakan fenomena dan gagasan yang telah ada sejak lama.
Hal ini menjadikan sistem WOM sebagai kunci dari strategi pemasaran dalam suatu
usaha[14].
Toko buku menjalankan sistem ini sejak awal mulai berdirinya usaha tersebut.
Usaha tersebut memiliki perkembangan promosi yang meningkat setelah empat tahun
lamanya. Ia menggunakan sistem WOM dalam perkembangannya dalam promosi.
Sistem WOM
berfokus pada giver (pemberian) dan receiver (penerimaan) dengan
transaksi yang sah dalam proses jual beli. Pemberian ini dilakukan penjual
terhadap pembeli dalam berlangsungnya transaksi jual beli. Sistem WOM merupakan
dasar dari perdagangan sebuah usaha. Hal ini menjadi sebuah strategi yang
disadari atau tidak disadari. Pedagang menggunakan strategi tersebut untuk
mengikat pelanggan.
Toko buku
Bina Ilmu menyadari akan pentingnya sistem WOM dalam usahanya. Sehingga, ia
menjadikan pelayanan sebagai media pengikat pelanggan melalui sistem WOM.
Analisis
Hasil Penelitian
Jual beli menurut konsep mengacu pada
pemahaman sebuah pasar. Pasar ini terdiri dari pelanggan potensial dengan
kebutuhan atau keinginan tertentu. Hal ini mampu mengambil bagian dalam jual
beli guna memuaskan kebutuhan atau keinginan tersebut[15].
Pasar ini tergantung pada kebutuhan suatu
masyarakat. Kebutuhan ini memiliki sumber daya yang menarik. Ia menyediakan
sumber daya tersebut untuk memperoleh apa yang diinginkan oleh masyarakat.
Pemasar merupakan pihak yang aktif dalam
menciptakan situasi jual beli. Pemasar merupakan pihak pertama. Calon pembeli
merupakan pihak kedua. Pemasar merupakan seorang yang berusaha memperoleh
sumber daya dari orang lain. ia mau menawarkan sesuatu yang bernilai sebagai
imbalannya. Pemasar berusaha memperoleh tanggapan dari pihak lain. Hal ini
memiliki tanggapan yang positif maupun negatif dalam menjual atau membeli
produk.
Jual beli merupakan pengelolaan proses yang
diperlukan dalam upaya dan keterampilan. Pembeli memiliki kemahiran dalam
memilih kebutuhan rumah tangganya. Ia memiliki peran untuk melakukan penjualan:
kendaraan yang dijual, jasa pribadi mereka yang dijual.
Penjual perlu adanya organisasi yang
professional dalam menangani proses jual beli. Ia memiliki peluang untuk
menarik sumberdaya dari seperangkat pasar. Ia menjadikan produk yang berfaedah.
Ia menjual produk di pasaran. Pemasaran di lingkungan pasar pelanggan
dilaksanakan oleh manajer penjualan, perwakilan penjualan, promosi, peneliti di
bidang pemasaran, manajer produk, manajer pasar, wakil presiden pemasaran.
Jabatan ini mengandung tugas dan tanggungjawab yang dirumuskan secara jelas.
Pekerjaan ini mencangkup pengelolaan sumber daya, pemasaran khusus seperti
periklanan, petugas penjualan, atau penelitian pemasaran, perencanaan
pemasaran, penerapan pemasaran, dan pengawasan pemasaran.
Manajer pemasaran merupakan seseorang yang
bertugas merangsang permintaan terhadap produk suatu usaha. Organisasi
membentuk idenya tentang suatu tingkat transaksi yang diharapkan dengan sebuah
sasaran. Manajer pemasaran mengelola sebaik-baiknya tugas dengan melakukan
penelitian. Manajemen pemasaran mamiliki upaya secara sadar dalam mencapai
hasil jual beli yang diharapkan sesuai sasaran.
Konsumen memiliki asumsi tertarik pada
persedian produk secara meluas dan harga murah. Hal ini dapat dipertahankan
sekurangnya dalam dua macam situasi. Pertama, permintaan ini melebihi suplai dalam suatu
produk.
Pelanggan ini memiliki ketertarikan dalam
memperoleh produk dibandingkan nilai produk tersebut[16].
Produsen lebih memusatkan perhatiannya pada penemuan cara untuk meningkatkan
produksi. Kedua, permintaan ini lebih kepada biaya produk yang tinggi.
Ia perlu menurunkan tingkatan produktivitas guna memperluas pasar.
Pembeli sangat mengagumi produk yang dibuat
dengan baik. Ia berasumsi terhadap pembeli mengenai pembeli. Pembeli dapat
menghargai kualitas produk dan penampilannya. Ia bersedia membayar produk yang
tergolong istimewa itu dengan harga lebih mahal. Pembeli sangat terpukau pada
sebuah produk. Ia tidak memahami keadaan pasar yang kurang penting dalam
membeli produk tersebut. Ia beranggapan mungkin minatnya beralih kearah yang
lain.
Manifestasi merupakan konsep produk yang
paling umum. Konsep produk menyebabkan pemasaran dipandang dari sudut itu
sendiri. Hal ini lebih diperhatikan pada produk ketimbang kebutuhan konsumen.
Konsep penjualan merupakan pendekatan umum yang
dipakai oleh banyak usaha terhadap pasar. Ia beranggapan mengenai konsumen yang
biasanya menunjukkan hasrat beli yang lemah. Pembeli menunjukkan penolakan dan
perlu dibujuk atau diperlakukan dengan ramah dan sabar. Hal ini bertujuan agar
pembeli berkeinginan untuk membeli.
Pemasaran yang dilakukan dengan kegiatan
penjualan yang giat. Pemasaran ini mengandung resiko yang tinggi[17].
Ia beranggapan bahwa pelanggan yang dibujuk, diperlakukan dengan baik dan sabar
untuk membeli suatu produk akan menyukai produk tersebut. Hal ini tidak
membicarakan kecacatan produk tersebut kepada konsumen. Ia tidak menyampaikan
keluh kesahnya kepada konsumen. Konsumen memungkinkan untuk kecewa terhadap
produk tersebut. Hal ini merupakan pendapat konsumen yang tidak bisa menjamin
kebenarannya.
Kekecewaan konsumen mengurangi daya
minatnya untuk membeli. Hal ini menjadi kemunduran dalam proses pemasaran. Islam
mengajarkan tentang kejujuran dalam berdagang. Rasulullah bersabda dalam hadis
sebagai berikut.
حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ
حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
قَالَ
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبَيِّعَانِ
بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا أَوْ يَقُولُ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ اخْتَرْ
وَرُبَّمَا قَالَ أَوْ يَكُونُ بَيْعَ خِيَارٍ
Telah
menceritakan kepada kami Abu An-Nu'man telah menceritakan kepada kami Hammad
bin Zaid telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Nafi' dari Ibnu 'Umar
radliallahu 'anhuma berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Dua orang yang melakukan jual beli boleh melakukan khiyar (pilihan untuk
melangsungkan atau membatalkan) dalam jual beli selama keduanya belum
berpisah". Atau Beliau bersabda: "(Selama belum berpisah) seorang
dari rekannya". Atau Beliau bersabda: "Jual beli menjadi khiyar
(terjadi dengan pilihan) ". (BUKHARI - 1967)
Hadis di atas menjelaskan adanya kewenangan
dalam membeli produk. Pembeli memiliki kewenangan dalam memutuskan antara jadi
atau tidaknya dalam sebuah jual beli. Pembeli adalah seorang raja. Pedagang
memperlakukan pembelinya seperti raja. Raja yang diperlakukan seramah dan
sesabar mungkin. Pembeli memiliki kedudukan sesuai dengan raja dalam konsep
perlakuannya.
Toko
buku menjadikan sistem WOM (Word Of Mouth) sebagai media dalam menarik
pelanggan. Sistem WOM bukan merupakan suatu gagasan baru. Toko buku menjadikan
WOM sebagai kunci usaha dalam prmasaran. Pendekatan WOM merupakan cara
pendekatan model baru. Pendekatan ini mengarah kepada pendekatan personal.
Pendekatan ini memiliki efektifitas yang sangat kuat dalam menarik pembeli.
Pembeli menjadikan referensi yang tepat untuk penjadi pelanggan tetap. Hali ini
menjadi peluang dalam sistem WOM yang dilakukan pelanggan terhadap toko buku
tersebut.
Toko
buku Bina Ilmu memberikan pelayanan serta kompensasi terhadap produk yang
dibeli sesuai dengan kesepakatan sebelumnya. Ia memberikan kompensasi berdasarkan
persetujuan dan syarat-syarat tertentu dalam perjanjian tersebut. Hal ini
memiliki konsep dalam perjanjian komitmen. Konsep komitmen ini memiliki teori
ekonomi yang disebut kedaulatan konsumen[18].
Pembeli merupakan penentu dalam proses produksi dalam perdagangan. Pedagang
berusaha memproduksi kebutuhan konsumen. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan
kesejahteraan konsumen setinggi-tingginya. Perusahaan memperoleh laba dari
aktivitas tersebut.
Toko
buku bina Ilmu tidak memaksakan kehendak pembelinya. Ia menawarkan dagangannya
sesuai dengan kebutuhan masyarakat disekitar. Hal ini menjadikan pembeli yang
beraneka ragam. Keanekaragaman ini meliputi;usia, pendapatan, tingkat
pendidikan, pola perpindahan tempat dan selera. Penjual mampu membedakan kelompok
konsumen yang berbeda. Perbedaan ini mampu mengembangkan produk dan jasa yang
disesuaikan dengan kebutuhan pembeli[19]. Pembeli memiliki hak untuk meneruskan atau
menghentikan transaksi kepada penjual, jika pembeli memiliki syarat atau hal
yang bisa mempengaruhi transaksi tersebut. Toko buku menjadikan transaksi
penjualan sesuai dengan pelayanan. Pembeli bertransaksi sesuai dengan hukum
jual beli.
Jual beli merupakan transaksi yang sangat
penting untuk pengesahan hak milik. Hak milik ini mengandung unsur manfaat
dalam penggunaannya. Transaksi tidak memiliki syarat sah, jika salah satu pihak
ada yang dirugikan. Rasulullah saw bersabda dalam hadis sebagai berikut.
حَدَّثَنَا أَسْبَاطُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا ابْنُ عَجْلَانَ عَنْ
عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ سَلَفٍ
وَبَيْعٍ وَعَنْ بَيْعَتَيْنِ فِي بَيْعَةٍ وَعَنْ بَيْعِ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ
وَعَنْ رِبْحِ مَا لَمْ يُضْمَنْ
Telah
menceritakan kepada kami Asbath bin Muhammad berkata; telah menceritakan kepada
kami Ibnu 'Ajlan dari 'Amru bin Syu'aib dari bapaknya dari kakeknya, dia
berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam melarang dari menjual
dengan jalan meminjamkan, dua perdagangan dalam satu transaksi, menjual sesuatu
yang tidak ada di sisimu, dan mengambil keuntungan dari barang yang tidak bisa
dijamin (keberadaannya). (AHMAD
– 6624)
Hadis
di atas menjelaskan konsistensi dalam membeli. Pembeli tidak diperbolehkan
membeli dua perdagangan dengan satu transaksi. Transaksi ini menjadikan syarat
dalam sah tidaknya suatu jual beli. Pembeli dilarang meminjam dari transaksi
perdagangan. Hal ini menjadikan salah satu pihak di rugikan. Kerugian ini
ditanggung oleh pedagang yang meminjamkan dagangannya kepada pembeli. Dagangan
ini merupakan produk yang jelas atau terdapat nilai manfaat di dalamnya.
Manfaat ini dirasakan oleh kedua pihak tanpa ada yang dirugikan.
Kerugian
yang melibatkan salah satu pihak mengurangi nilai manfaatnya. Pembeli memiliki
etika dalam bertransaksi. Hal ini terdapat pada pembeli sebagai pelaku dalam
penjualan produk. Produk yang dijual memberikan nilai kepuasan kepada pembeli,
sehingga pembeli merasakan manfaat dari produk yang dibelinya[20].
Pembeli
memiliki ketertarikan dalam bertransaksi dengang penjual yang jujur dan amanah.
Ia merasakan kenyamanan dengan suasana yang ramah dan bersahabat. Demikian ini
menjadikan kepuasan tersendiri, jika pedagang memberi keringanan dalam
bertransaksi. Rasulullah saw bersabda dalam hadis sebagai berikut.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَن
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا
شُعْبَةُ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ رِبْعِيِّ بْنِ حِرَاشٍ عَنْ
حُذَيْفَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَجُلًا
مَاتَ فَدَخَلَ الْجَنَّةَ فَقِيلَ لَهُ مَا كُنْتَ تَعْمَلُ قَالَ فَإِمَّا
ذَكَرَ وَإِمَّا ذُكِّرَ فَقَالَ إِنِّي كُنْتُ أُبَايِعُ النَّاسَ فَكُنْتُ
أُنْظِرُ الْمُعْسِرَ وَأَتَجَوَّزُ فِي السِّكَّةِ أَوْ فِي النَّقْدِ فَغُفِرَ
لَهُ فَقَالَ أَبُو مَسْعُودٍ وَأَنَا سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin
Mutsanna telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan
kepada kami Syu'bah dari Abdul Malik bin Umair dari Rib'i bin Hirasy dari Hudzaifah
dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa seorang laki-laki meninggal dunia
kemudian dia dimasukkan ke surga, lantas dikatakan kepadanya, 'Apa amalanmu
(sewaktu di dunia)? ' -ia menyebutkan atau disebutkan- Beliau bersabda:
"Sesungguhnya dahulu saya pernah transaksi dengan orang-orang, lalu saya
memberi tangguh kepada orang yang kesusahan dan mempermudah dalam urusan
keuangan atau dalam pembayaran, oleh karena itu dosanya di ampuni." Abu
Mas'ud berkata, "Dan saya mendengar hal itu dari Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam."(MUSLIM - 2919)
Hadis di atas menjelaskan strategi
pemasaran melalui keringanan yang dilakukan penjual terhadap pembeli. Pembeli
membeli suatu produk dengan intensitas kebutuhan yang sangat beragam.[21]
Ia membeli produk yang pokok maupun hanya untuk kebutuhan pelengkapan semata.
Ia membutuhkan produk pokok demi memenuhi kebutuhannya. Pedagang yang memberi
ketangguhan terhadap pembeli dengan ekonomi yang mendesak. Pedagang yang
mengikhlaskan produknya terhadap pembeli yang sangat membutuhkan produk
tersebut. Hal ini menjadi nilai pahala tersendiri terhadap pedagang tersebut.
Pedagang memiliki peluang besar untuk membantu pembeli dalam meningkatkan
kualitas kesejahteraan.
Toko buku memberi pelayanan yang tidak
hanya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, namun ia memberikan kontribusi ilmu
dalam mencerdaskan pembeli. Toko buku menyiapkan buku bacaan disela-sela waktu
tunggu pembeli. Ia menyediakan buku-buku tersebut disela-sela pembeli menunggu
produk yang dibelinya. Hal ini bertujuan agar pembeli tidak jenuh dalam masa
menunggunya. Pedagang berusaha mengamati kelompok referensi dari para
pembelinya. Pembeli dipengaruhi oleh kelompok referensi sekurangnya melalui
tiga cara. Pertama, pembeli menghadapkan pada perilaku dan gaya hidup. Kedua,
pembeli mempengaruhi sikap dan gambaran diri. Pembeli dipengaruhi secara
normal yang diinginkan untuk menyesuaikan diri. Ketiga, kelompok
referensi ini menciptakan suasana untuk penyesuaian suatu produk.[22]
Produk ini menjadi media dalam menarik pembeli sebagai pelanggan tetap.
Toko buku menjadikan sistem membaca dalam
menunggu sebagai suatu sistem. Sistem pelayanan untuk meningkatkan kualitas
pelayanan dan pemasaran. Hal ini menjadi peluang bagi toko buku Bina Ilmu
Kediri. Ia menjadikannya suatu proses pelayanan untuk meningkatkan strategi
pemasaran dalam produk.
Kesimpulan
Strategi pemasaran sangat diperlukan dalam
meningkatkan volume penjualan. Volume penjualan ini memiliki pengaruh besar
terhadap perputaran modal untuk mendapatkan suatu produk. Toko buku menjadikan
pelayanan dan harga produk sebagai media untuk strategi bisnis. Strategi ini
mengarah pada dua lingkup sistem, namun sistem ini memiliki ruang lingkup yang
sangat luas. Sistem pelayanan ini menarik pembeli melalui kenyamanan dalam
bertransaksi. Sistem harga produk menjadikan media dalam menarik pembeli dari
sisi perekonomian.
Kualitas produk berperan penting terhadap
kepuasan pembeli. Kualitas produk merupakan faktor paling utama. Ia merupakan
faktor pertama kali yang diperhatikan ketika berhadapan dengan masyarakat kota.
Masyarakat desa lebih mengabaikan faktor kualitas. Ia mementingkan faktor harga
dalam mempertimbangkan produk yang dibelinya. Masyarakat desa memiliki selera
yang sederhana dalam memutuskan untuk membeli. Hal ini memiliki perbedaan
dengan masyarakat kota. Masyarakat kota memiliki selera tinggi dalam kualitas
pembeliannya, sehingga dibutuhkan keseimbangan dalam strategi penjualan.
Keseimbangan ini berfungsi untuk meningkatkan pelayanan. Pelayanan ini memiliki
dua kompenen penting di dalamnya. Kompenen ini memiliki peran penting di dalam
strategi pemasaran. Kompenen penting melingkupi; kualitas produk, harga produk, pelayanan dalam melayani
pembeli. Hal ini menjadi kompenen penting dalam toko buku Bina Ilmu Kediri.
[1] Andi Cahyo, “Analisis Pengaruh Relationship
Marketing terhadap loyalitas pelanggan Toko Buku Togamas Solo”, Jurnal
Pemasaran, No.4 Vol 1 (Maret 2013),. hlm. 11-19.
[2] Lukman Hakim, “ Penempatan WOM(Word Of Mouth) Strategi pemasaran pada took buku
Diskon Togamas”, Skripsi, Universitas Brawijaya progam studi Ekonomi
Bisnis, 2013,.hlm 20-24
[3] Ni Made Hartini, “Pengaruh Bauran Pemasaran Ritel terhadap keputusan pelanggan membeli
buku (studi kasuspada took buku Diskon Togamas Denpasar)”, Jurnal, No. 1
Vol. 4 (Februari 2015),. Hlm 1-7.
[4] Endah Oktavianto, “ Strategi bauran promosi pada tokok buku Diskon Togamas Margorejo
Surabaya”, Skripsi, Universitas Surabaya progam studi Ekonomi Bisnis,
2010,.hlm 16-18
[5] Ayu Meida dan Jauhari, “Aplikasi M- Commerce untuk penjualan buku pada suatu took buku
berbasis WEP(Wireless Application Protocol) service dengan media handphone”,
Jurnal, No. 02 Vol.03(Oktober 2011),. hlm. 5-8.
[6] Maya Safitri, “Perancangan prototipe aplikasi berbasis WEB untuk promosi dan
pemasaran toko buku online (studi kasus di PT. Penerbit IPB Press)”, Tesis,
2012,.hlm 7-10
[7] Nelky Pongngalla, “Strategi pemasaran PT. Gramedia Asri Media Royal Plaza Surabaya dalam
bersaing dan meningkatkan omset”, Skripsi, Universitas Pembangunan Nasional
“Veteran” Progam studi Administrasi Bisnis, 2013,.hlm 50-55
[8] Fajar Rivai, “ Sistem penjualan buku pada
toko buku Salemba berbasis WEB”, Skripsi, Universitas Dian Nuswantoro
Progam studi Teknik Informatika, 2013,.hlm 12-14
[9] Lia Handayani, “ Strategi pemasaran toko u
PUISMA UTAMA (Studi kasus merancang strategi promosi untuk meningkatkan omset),
Jurnal, No. 05 Vol. 01(April 2013),.hlm 40-45
[10] Fikri Nor Fahmi, Hj. Syariah Hudayah dan
Muhammad Washil, “ Kualitas layanan terhadap kepuasan konsumen pada toko
buku Gramedia Lembuswana”, Tesis, Universitas Airlangga Progam studi
Ekonomi Bisnis, 2011,.hlm 36-38
[11] Jaman, “Sistem informasi
penjualan buku pada toko buku GANESHA Purwokerto menggunakan metode object oriented programming”, Jurnal, No.03 Vol.
01 (April 2014),.hlm 1-10
[12] Erni Widjaja, Metodologi Pemasaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996),.hlm. 241
2000),.hlm 198
[15] Philip Kotler, Manajemen Pemasaran,
(Jakarta: Erlangga, 1994),. Hlm. 17
Jilid
2 Edisi Keenam.
(Jakarta: Erlangga, 2003),.hlm 193.
[17] Ibid,. 191
Liberty,
2003),.hlm
77.
[21] Surya
Dharma, Manajemen Kinerja,
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009),. hlm 79.
[22] Ibid,. 167
Tidak ada komentar:
Posting Komentar